Sebuah keprihatinan mahasiswa bahasa Prancis terhadap isu lingkungan dan tata kelola perkotaan.
 |
| Salah satu jalan di Kebun Raya Bogor |
Pernah berkeluh kesah tentang panasnya udara di Bogor saat ini? Pernah merasa nyaman dengan dinginnya Bogor yang bisa mencapai 17-19 derajat celcius? Pernah merasa aneh dengan perubahan cuaca yang ekstrem di Bogor? Pernah melihat air bah yang besar di sekitaran anak sungai Ciliwung? Dan yang paling penting, pernahkah melihat tumpukan sampah menyertai gumpalan air bah di sekitaran sungai? Kali ini saya ingin mencoba untuk merefleksikan kehidupan yang ada di Bogor, terutama di daerah Kotamadyanya.
Dengan mengusung tema Bogor Beriman yang berarti Bogor Bersih Indah Nyaman, Bogor mempunyai misi yang penting bagi keseimbangan antara alam dan manusia, yaitu dengan mewujudkan kota yang ramah lingkungan. Dikenal sejak lama sebagai salah satu destinasi wisata hijau warga-warga perkotaan, Bogor tentu harus menaruh perhatian yang lebih terhadap lingkungan. Dengan adanya Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor di jantung kota Bogor, membuat kota ini terlihat asri dengan pepohonan yang menjulang tinggi dan besar di sekitarnya. Pohon beringin yang mungkin hanya kita dapat lihat di hutan hujan tropis atau mungkin hanya di simbol ideologi Pancasila Indonesia, dapat kalian temukan di pusat kota Bogor. Keren bukan kota mungil nan hijau ini?
 |
| Kemacetan kota Bogor pada Jumat sore |
Namun, sayang beribu sayang, Bogor -unggal po
é- bertransformasi ke arah yang menurut saya terlalu komersial dan destruktif. Modernisasi dan pembangunan jalan yang lebar saya rasa hanya menguntungkan beberapa pihak yang tidak peduli terhadap kaum-kaum yang lemah. Mereka memang wajib ditertibkan, namun menurut saya penetertiban tidak seharusnya menanggalkan mata pencaharian mereka. Berpikir sebelum bertindak, memberikan solusi sebelum kita bertindak adalah tindakan yang lumrah untuk memanusiakan manusia. Bukan tanggung jawab pemerintah karena mereka membangun usaha di tanah yang "salah"? Mengapa kita tidak mencoba untuk berpikir, rakyat adalah tanggung jawab negara, negara wajib menjamin kesejahteraan rakyatnya? Bukankah hal itu sudah dijamin dalam UUD negara kita? Maka dari itu penggusuran bangunan liar seyogyanya juga dikesinambungkan dengan kesejahteraan rakyat.
 |
| Pengubahalihan taman untuk pesta pernikahan |
Berkaitan dengan isu lingkungan yang ada di wilayah perkotaan, menarik bagi kita dengan seksama melihat perubahan atau transformasi "wajah" yang orang banyak bilang sebagai "kebun raya" alias wilayah hijau yang luas, yaitu Kebun Raya Bogor. Sangat mengejutkan memang dalam 5 tahun terakhir, wajah ikon kota Bogor ini telah berubah sedemikian drastis dan komersial. Diawali dari pertentangan pembangunan sebuah hotel yang berada tepat di sekitaran tugu kujang, yang katanya bakalan menghambat arus air tanah ke Kebun Raya Bogor dan juga mengganggu pemandangan wisatawan untuk melihat, dari sekitaran tugu kujang, silhouette Gunung Salak yang membiru di pagi hari, sampai pada kenyataan yang saya dapat sejak kemarin Jumat, 20 Februari 2015, bahwa Kebun Raya Bogor sudah beralih fungsi sebagai tempat komersial. Dimana di sepanjang jalan, kita dapat menemukan pedagang, baik itu pedagang eskrim, aksesoris, makanan dan lain sebagainya. Yang lebih parahnya, di sebelah timur kebun ini, terdapat satu restauran yang menyajikan pemandangan indahnya kebun raya. Menarik memang jika kita membayangkan menyantap makan siang kita dengan pemandangan seperti itu. Namun, yang amat disayangkan adalah, entah karena kegiatan restauran ini atau bukan, tempat yang tadinya terdapat lahan hijau, malah dialihfungsikan sebagai lahan parkir! Ditambah lagi, saya pernah menemukan ada beberapa pasangan yang melangsungkan pernikahannya di sini, sehingga membuat Kebun Raya Bogor terlihat seperti lapangan parkir, bukan lagi sebagai kebun yang dapat dinikmati manusia untuk sekedar bersantai, piknik dan rekreasi.
 |
| Suasana di salah satu taman di Kebun Raya Bogor |
Selain hal itu, saya juga menyayangkan pihak pengelola yang seolah membiarkan kendaraan pribadi untuk dapat "menjamah" kebun kebanggaan Bogor ini. Sehingga mereka yang berjalan kaki -termasuk saya- seolah termarjinalkan akan kehadiran kendaraan-kendaraan itu, para pedestrian -harus- mempersilahkan mereka yang mengklakson dari belakang, menyingkir dari jalan, sehingga saya dan mungkin sebagian dari pedestrian lainnya memilih untuk berjalan melalui rumput-rumput (yang sebaiknya jangan diinjak) untuk dapat menghindari agar tidak ditabrak oleh mereka. Adanya kebebasan pengendara mobil untuk masuk ke kebun raya menurut saya adalah suatu keputusan yang tidak tepat. Memang hutan kota ini mempunyai luas sekitar dua hektar, tapi apakah dengan membiarkan mobil masuk dapat mejaga kelestarian lingkungan dan ekosistem yang ada? Bukankah Kebun Raya Bogor termasuk salah satu tempat atraktif yang dapat dijadikan sebagai tempat penghilang kepenatan dan kebisingan kota? Pengelola tentunya dapat mengatasi masalah "kemalasan pengunjung" tersebut dengan memberikan alternatif yaitu berupa fasilitas sewa sepeda di Kebun Raya Bogor.
 |
| Penebangan pohon tua untuk menghindari jatuhnya korban jiwa |
Adanya beberapa kecelakaan di kebun raya seperti tumbangnya pohon-pohon tua yang menimbulkan korban tewas, saya rasa itu merupakan pertanda bahwa alam sudah gerah dengan aktivitas manusia yang berlebihan. Memang sejatinya kasus itu adalah karena cuaca yang ekstrem di musim hujan, tapi bagi saya itu merupakan peringatan bagi kita, manusia untuk dapat melestarikan alam demi keberlangsungan hidup bersama. Di Bogor sendiri saya masih menemukan mereka para pemuda maupun tetua yang masih dengan jailnya membuang sampah tidak pada tempatnya. Di angkutan umum, saya menemukan 3 kali masalah ini. Pertama kali adalah tiga anak SMA, saya tidak tahu mereka dari SMA mana yang jelas saya geram sekali melihat mereka asik meminum minumannya dan kemudian dengan alasan "pura-pura jatuh" bekas minumannya ditaro di dalam angkutan umum. Lalu kedua dan ketiga kali, saya menemukan masalah ini dalam satu hari. Yang kedua pelakunya adalah anak SMP, satu anak SMP tersebut membuang plastik bekas makanan pempeknya di sungai yang berada di sebelah Jambu Dua. Anak SMP itu tidak merasa bersalah. Lalu yang ketiga, pelakunya adalah seorang ibu muda yang membawa anaknya di dalam angkutan umum 22. Ia membuang plastik snack-nya di jalan, padahal ia membuang sampah tersebut di depan rumah orang. Herannya lagi, ia dan kawan-kawannya yang lain malah melanjutkan tertawa-tawa di dalam angkutan yang sesak dengan penumpang. Di antara ketiga hal tersebut, saya salah tidak menegur mereka unuk membuang sampang pada tempatnya. Saya tidak mendapatkan keberanian. Namun setelah geram beberapa kali itu, saya ingin menegakkan "green life" bagi mereka yang masih membuang sampah pada tempatnya.

Memecahkan masalah lingkungan yang ada di kota Bogor ini, saya rasa perlu adanya peran pendidikan dalam bentuk praktek di setiap kalangan masyarakat. Baik itu muda tua, kaya miskin, maupun pemerintah rakyat. Kita perlu bimbingan, kita perlu pembinaan agar kita sadar akan isu lingkungan. Bimbingan atau pembinaan tidak hanya datang dari bangku sekolah, namun juga dalam gaya hidup kita. Memang tidak mudah bagi kita untuk mencoba mempengaruhi orang lain hidup dalam keseimbangan dengan alam, namun ada baiknya jika kita sendiri mencoba untuk menanamkan green lifestyle. Green lifestyle yang berarti melakukan segala aktivitas dan gaya hidup kita dengan bercermin pada dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkan kelak. Selain itu, pemerintah juga dapat mencoba kerjasama dalam bidang sustainable development dengan negara-negara asing dan juga memberikan layanan sewa sepeda seperti di Belanda dan Denmark, guna memberikan kesan eco-friendly city di Bogor. Tidak perlu mengkhawatirkan akan ketidaksediaan lintasan khusus sepeda, namun dengan adanya tempat tersebut, tentu kita dapat memulai membudayakan dan mempengaruhi masyarakat Bogor untuk dapat bergaya hidup yang sehat dan cinta lingkungan.
Semoga di ulang tahun Bogor yang ke 533 pada 5 Juni 2015 nanti, pemerintah dapat memberikan gebrakan baru berupa kebijakannya dalam mengusung kota yang ramah lingkungan dan membangun masyarakat yang cinta lingkungan.
Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire