Pages

lundi, février 16, 2015

Membangun Semangat Ramah Lingkungan - Diplomasi Lingkungan Denmark-Indonesia



Membangun Semangat Ramah Lingkungan
Diplomasi Lingkungan Denmark-Indonesia
Karya Fahmi Hendriawan
Universitas Negeri Jakarta
 

H.E. Casper Klynge,  while attending the FPCI event #DiplomasiBakso

Jakarta, sang ibu kota merupakan cerminan modernitas bangsa Indonesia. Semua mata dari Sabang sampe Merauke tertuju pada setiap inovasi dan kebijakan yang dibuat di ibu kota ini. Selain itu, kota megapolitan ini pun menjadi role model bagi kota-kota besar maupun kota-kota pinggiran Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang maupun Bekasi. Banyak poin positif dari modernisasi Jakarta yang diadopsi oleh kota-kota di seluruh Indonesia, salah satunya yaitu mewujudkan kota yang modern dan bersahabat dengan lingkungan dan alam. Dalam perwujudan itu, beberapa upaya seperti pembenahan tata ruang dan tata lahan hijau seperti dengan membangun jalan pedestrian yang lebar di pusat kota telah terlaksana dan teradopsi dengan baik. Seperti contoh di Bogor, pemerintahnya berbenah menghiasi kotanya dengan paving-paving yang juga bersahabat untuk penyandang tunanetra. 

Namun, apakah cukup dengan menghiasi dan memperlebar jalan pedestrian guna membangun semangat ramah lingkungan? 

Untuk mewujudkan masyarakat yang sadar akan lingkungan dan alam sekitar, penulis rasa perlu adanya kerjasama pemerintah dalam bidang lingkungan dengan negara lain yang tentunya mempunyai kredibelitas dan rekam jejak yang positif dalam menangani isu-isu lingkungan. Karena selama ini pemerintah hanya melakukan kerjasama dengan negara-negara maju yang belum tentu mereka maju dibidang pengolahan lingkungan. 

Pemerintah Republik Indonesia dapat mencoba mengkaji hal ini dengan coba bekerjasama dengan Denmark. Jika kita melakukan pencarian di Google.com dengan kata kunci “best country to live”, negara itu selalu menempati posisi 10 atau bahkan 5 besar. Di dalam berbagai artikel yang tersaji, selalu menyebutkan bahwa Denmark dengan ibu kotanya, Copenhagen mempunyai perhatian yang tinggi terhadap isu lingkungan di negaranya maupun di dunia. Pemerintahnya mencoba untuk membangun norma bersepada untuk pergi kemanapun guna untuk mewujudkan zero emission di negaranya[1]. Maka dari itu tak ayal bahwa banyak sekali sepeda-sepeda yang disediakan di setiap sudut jalan guna untuk membangun semangat go green itu. Di kota yang paling padat dan besar di Denmark, Copenhagen, terdapat sekitar 50% warganya yang menggunakan sepeda untuk bekerja dan pergi sekolah. [2]Bahkan, salah satu distrik di barat laut Denmark yang bernama Nørrebro dan di barat Denmark, Frederiksberg berkomitmen untuk bersepeda. Hal ini sangat kontras dengan apa yang terjadi di Jakarta, lintasan sudah disediakan namun terpakai oleh mobil-mobil yang diparkiran di sekitaran lintasan. Selain itu, orang-orang Denmark pun mempunyai semangat mengkonservasi apapun, termasuk listrik.[3]  Selain itu, negara viking ini juga berkomitmen dan bersemangat dalam menghadiri forum-forum international seputar isu-isu lingkungan[4]. Juga, kedinamisan Dubes-dubes Denmark yang berkemauan keras guna membangun budaya ramah lingkungan. Dubes Denmark untuk Indonesia, HE. Casper Klynge, mengkampanyekan kehidupan bike to work dengan menggelar gathering komunitas “Viking Biking Indonesia” pada Jumat pagi pukul 7.30 di Monas, Jakarta.

Berdasarkan riwayat Denmark tersebut, diharapkan pemerintah dapat terus menggalang dan membina kerjasama lebih mendalam dalam bidang lingkungan dengan Denmark. Berangkat dari arah pemerintahan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yaitu revolusi mental, mungkin kedepannya pemerintah dapat mempertimbangkan pembuatan jalan-jalan khusus mereka yang bersepeda dan juga dapat membangun pos-pos rental sepeda di jalan-jalan protokol seperti yang terjadi di Copenhagen, Denmark, agar kehidupan « go green » masyarakatnya dapat terlaksana secara praktikal, bukan lagi hanya sekedar orasi dan pengajaran di sekolah-sekolah yang berupa ceramah. Walaupun bekerjasama dengan negara yang luasnya lebih kecil dari Indonesia, pemerintah tentunya dapat menggalang lebih banyak ilmu seputar lingkungan karena walaupun kecil, negara ini kecil-kecil cabe rawit alias handal dan terlatih!

Bisa karena terbiasa, maka mulailah budaya ramah lingkungan dengan menyentuh aktivitas atau rutinitas sehari-hari masyarakat luas agar nantinya kita dapat membangun semangat tersebut dan setiap golongan masyarakatpun akan mempunyai kesadaran akan lingkungan secara naluriah, tanpa perlu teguran terlebih dahulu. Walaupun cuaca dan polusi adalah tantangan bagi mereka yang bersepeda, dengan menghormati bersikap ramah terhadap lingkungan maka alam tidak akan menunjukkan kemurkaannya. 

 *Essai ini dibuat untuk mengikuti kompetisi #Ambassador1Day held by Denmark Embassy to Indonesia*


[1] http://www.huffingtonpost.com/2013/10/22/denmark-happiest-country_n_4070761.html
[2] Idem.
[3] http://www.bbc.com/travel/feature/20141215-living-in-the-worlds-most-eco-friendly-cities/2
[4] https://www.facebook.com/DenmarkInIndonesia/photos/pb.430179640384607.-2207520000.1423718843./716596651742903/?type=1&theater

Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire