Membangun
Semangat Ramah Lingkungan
Diplomasi
Lingkungan Denmark-Indonesia
Karya
Fahmi Hendriawan
Universitas
Negeri Jakarta
Jakarta, sang ibu kota merupakan cerminan modernitas bangsa Indonesia. Semua mata dari Sabang sampe Merauke tertuju pada setiap inovasi dan kebijakan yang dibuat di ibu kota ini. Selain itu, kota megapolitan ini pun menjadi role model bagi kota-kota besar maupun kota-kota pinggiran Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang maupun Bekasi. Banyak poin positif dari modernisasi Jakarta yang diadopsi oleh kota-kota di seluruh Indonesia, salah satunya yaitu mewujudkan kota yang modern dan bersahabat dengan lingkungan dan alam. Dalam perwujudan itu, beberapa upaya seperti pembenahan tata ruang dan tata lahan hijau seperti dengan membangun jalan pedestrian yang lebar di pusat kota telah terlaksana dan teradopsi dengan baik. Seperti contoh di Bogor, pemerintahnya berbenah menghiasi kotanya dengan paving-paving yang juga bersahabat untuk penyandang tunanetra.
Namun, apakah cukup dengan
menghiasi dan memperlebar jalan pedestrian guna membangun semangat ramah
lingkungan?
Untuk mewujudkan masyarakat
yang sadar akan lingkungan dan alam sekitar, penulis rasa perlu adanya
kerjasama pemerintah dalam bidang lingkungan dengan negara lain yang tentunya
mempunyai kredibelitas dan rekam jejak yang positif dalam menangani isu-isu
lingkungan. Karena selama ini pemerintah hanya melakukan kerjasama dengan
negara-negara maju yang belum tentu mereka maju dibidang pengolahan lingkungan.
Pemerintah Republik
Indonesia dapat mencoba mengkaji hal ini dengan coba bekerjasama dengan
Denmark. Jika kita melakukan pencarian di Google.com
dengan kata kunci “best country to live”,
negara itu selalu menempati posisi 10 atau bahkan 5 besar. Di dalam berbagai
artikel yang tersaji, selalu menyebutkan bahwa Denmark dengan ibu kotanya,
Copenhagen mempunyai perhatian yang tinggi terhadap isu lingkungan di negaranya
maupun di dunia. Pemerintahnya mencoba untuk membangun norma bersepada untuk
pergi kemanapun guna untuk mewujudkan zero
emission di negaranya[1].
Maka dari itu tak ayal bahwa banyak sekali sepeda-sepeda yang disediakan di
setiap sudut jalan guna untuk membangun semangat go green itu. Di kota yang paling padat dan besar di Denmark,
Copenhagen, terdapat sekitar 50% warganya yang menggunakan sepeda untuk bekerja
dan pergi sekolah. [2]Bahkan,
salah satu distrik di barat laut Denmark yang bernama Nørrebro dan di barat
Denmark, Frederiksberg berkomitmen untuk bersepeda. Hal ini sangat kontras
dengan apa yang terjadi di Jakarta, lintasan sudah disediakan namun terpakai
oleh mobil-mobil yang diparkiran di sekitaran lintasan. Selain itu, orang-orang Denmark pun mempunyai
semangat mengkonservasi apapun, termasuk listrik.[3] Selain itu,
negara viking ini juga berkomitmen dan bersemangat dalam menghadiri forum-forum
international seputar isu-isu lingkungan[4]. Juga,
kedinamisan Dubes-dubes Denmark yang berkemauan keras guna membangun budaya
ramah lingkungan. Dubes Denmark untuk Indonesia, HE. Casper Klynge, mengkampanyekan
kehidupan bike to work dengan
menggelar gathering komunitas “Viking Biking Indonesia” pada Jumat pagi pukul
7.30 di Monas, Jakarta.
Berdasarkan riwayat Denmark
tersebut, diharapkan pemerintah dapat terus menggalang dan membina kerjasama
lebih mendalam dalam bidang lingkungan dengan Denmark. Berangkat dari arah
pemerintahan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yaitu revolusi mental, mungkin
kedepannya pemerintah dapat mempertimbangkan pembuatan jalan-jalan khusus
mereka yang bersepeda dan juga dapat membangun pos-pos rental sepeda di
jalan-jalan protokol seperti yang terjadi di Copenhagen, Denmark, agar
kehidupan « go green » masyarakatnya dapat terlaksana secara
praktikal, bukan lagi hanya sekedar orasi dan pengajaran di sekolah-sekolah
yang berupa ceramah. Walaupun bekerjasama dengan negara yang luasnya lebih
kecil dari Indonesia, pemerintah tentunya dapat menggalang lebih banyak ilmu
seputar lingkungan karena walaupun kecil, negara ini kecil-kecil cabe rawit
alias handal dan terlatih!
Bisa karena terbiasa, maka
mulailah budaya ramah lingkungan dengan menyentuh aktivitas atau rutinitas
sehari-hari masyarakat luas agar nantinya kita dapat membangun semangat
tersebut dan setiap golongan masyarakatpun akan mempunyai kesadaran akan
lingkungan secara naluriah, tanpa perlu teguran terlebih dahulu. Walaupun cuaca
dan polusi adalah tantangan bagi mereka yang bersepeda, dengan menghormati
bersikap ramah terhadap lingkungan maka alam tidak akan menunjukkan
kemurkaannya.
*Essai ini dibuat untuk mengikuti kompetisi #Ambassador1Day held by Denmark Embassy to Indonesia*
[1] http://www.huffingtonpost.com/2013/10/22/denmark-happiest-country_n_4070761.html
[2] Idem.
[3] http://www.bbc.com/travel/feature/20141215-living-in-the-worlds-most-eco-friendly-cities/2
[4] https://www.facebook.com/DenmarkInIndonesia/photos/pb.430179640384607.-2207520000.1423718843./716596651742903/?type=1&theater


Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire