Pages

mercredi, février 26, 2014

Bumi yang Ingin Berubah

Hey! Hari ini adalah hari yang mendung bagi sebagian orang, mungkin hari yang terberat juga bagi seseorang bernama Bumi. Ya, si bumi ini sedang kebingungan tentang perbedaan antara takdir dan perubahan. Semua orang mengalami evolusi, baik itu secara langsung mau pun berkelanjutan, tapi yang membuat Bumi ini bingung adalah, bagaimana mungkin suatu hal yang terjadi pada masa evolusi seseorang itu bisa dikatakan takdir bukan perubahan? Padahal takdir hanyalah sebuah sebutan bagi suatu hal yang memang sudah diwujudkan seperti kehendak-Nya, namun apakah hal atau bahkan wujud itu dapat diubah dengan adanya niatan atau kemauan untuk berubah? Bingung sih, si Bumi apalagi.
Jadi ceritanya si Bumi ini sedang berjalan menyusuri lorong yang terasa begitu amat panjang nan ramai bersama teman baiknya, Merkurius dan Venus. Di setiap sudut lorong itu terdapat hal-hal yang berbeda; ada sudut dengan keramaian yang biasa saja, ada sudut yang sangat amat ramai sehingga menimbulkan kegaduhan dan kegemerlapan di antara kegelapan lorong tersebut, namun ada juga sudut yang membuat si bumi ini teramat terkesima melihatnya sehingga ia meneruskan perjalanannya itu menuju sudut itu, saking fokusnya, si Bumi tidak melihat sudut lain yang bahkan amat sangat ramai kala itu. Sudut itu menarik perhatian si Bumi karena memiliki daya tarik tersendiri yang tidak dipancarkan oleh sudut-sudut lain. Sudut dimana kita dapat merasakan dan mendengarkan hembusan angin yang amat mencekam di lorong itu. Tidak, sudut ini tidaklah gelap. Cahaya yang cukup membuat penampilan sudut ini terasa amat minimalis dan natural. Tidak banyak orang yang berkunjung di sudut itu. Hanya ada beberapa meteor dan juga beberapa komet dengan segala kesibukkannya; membaca buku dan menulis. Ini mungkin salah satu sudut yang sangat tenang karena nuansa yang ada di sana amatlah santai dan nyaman. Si Bumi bingung, celingak celinguk. Namun tak ada orang yang mempedulikan kebingungannya itu. Ia mencoba masuk dan merasakan kehangatan sudut itu. Setelah bertahan beberapa detik, inilah, inilah hal baru yang ia inginkan. Ia pun duduk sambil mencermati objek yang ada di setiap sudutnya.
“Ah, tapi, kemana yang lain? Apakah mereka masih bersama dengan saya? Merkurius dan venus teman baik saya, kemana mereka? Ah ternyata mereka masih berputar di sudut yang sama, sambil tetap ditemani matahari.”
Hanya Bumi yang saat itu mengingkari janjinya untuk tidak keluar dari sistem Bimasakti. Bumi ini ngeyel, susah diatur dan tidak mau mendengar kata-kata penghuni lain di galaksi yang sama. Lucu, satu alasan yang ia berikan adalah karena ia ingin merasakan perbedaan yang bisa didapat di luar jangkauan galaksi Bimasakti. Sedangkan ia belum mengetahui keagungan Bimasakti dan bahkan belum mengetahui sistem galaksi lain. Bumi Bumi... Bingung juga deh. Balik gih.

Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire